Sabtu, 21 Mei 2011

5 Penemuan Yang Tidak Dapat Dijelaskan Dengan IPTEK

1. The Voynich Manuscript

The Voynich manuscript adalah buku kuno yang terbukti sukses membuat para ilmuwan terlihat bodoh, seakan buku ini mengatakan, "Figure THIS out, fuckwads." tapi nyatanya buku ini merupakan sebuah buku text yang menyimpan misteri dan maksud didalamnya, terdapat juga ilustrasi didalam buku kuno ini. Sebenarnya tulisan tersebut merupakan bahasa, tapi tak seorangpun tahu maksudnya. Dan pasti ada maksud dibalik tulisan tersebut. Tak ada kepastian siapa yang menulis ini, bahkan kapan buku tersebut ditulis.

Kenapa tidak dapat dijelaskan?

Jangan berani-berani mencoba kalau tidak ingin bingung sendiri, karena Expert military code breakers, cryptographers, mathematicians, linguists, orang-orang tersebut pun gagal dalam memecahkan kode tulisan ini, tidak diketahui mengapa mereka dapat tidak mengetahui satu katapun.


2. The Antikythera Mechanism

Antikythera mechanism adalah sebuah barang kuno, yaitu sebuah pecahan mesin tua yang ditemukan di bangkai kapal dekat Yunani, yang akhirnya diketahui barang tersebut berasal dari 100 tahun sebelum masehi.

Antikythera mechanism memiliku banyak gear dan berstruktur aneh yang jarang ditemukan lagi selama 1000 tahun.

Kenapa tidak dapat dijelaskan ?

Pertama, karena tak satupun orang tau dimana Antikythera mechanism dibuat. Keanehan alat ini sungguh tak masuk akal pada eranya. Pada bentuknya diketahui alat ini digunakan untuk mempelajari astronomi, tapi bagaimana bisa diciptakan alat itu padahal ilmuwan saat itu masih belum mengetahui hukum grafitasi dan bagaimana tubuh kita bergerak ?


3. The Baigong Pipes

Di suatu area di China, tempat dimana tidak dihuni penduduk. terdapat tiga pintu pipa segitiga yang dipenuhi besi dan rongsokan yang sudah berkarat di sekitar tepi gunung. Beberapa pipa menusuk jauh ke dalam gunung. Tapi beberapa pipa malah menyambung ke sebuah kolam danau yang asin. masih banyak lagi pipa² yang tidak dketahui dimana letaknya. beberapa ada yang panjangnya 40cm, dan beberapa ada juga yang lebih pendek, tapi sepertinya pipa diletakkan untuk menyusun sebuah bentuk tertentu.

Kenapa tidak dapat dijelaskan ?

Masalahnya pipa itu diketahui dibuat dari zaman batu. Dimana pada waktu itu manusia masih bingung bagaimana cara memasak daging dengan matang tanpa membakar rambutnya sendiri, bahkan ada beberapa anggapan ini merupakan tempat melandasnya UFO !


4. The Giant Stone Balls of Costa Rica

Costa Rica dan daerah sekitarnya dikejutkan dengan penemuan batu bola yang bundar dengan bentuk sempurna sekali. Tidak hanya satu yang ditemukan, tetapi banyak, ada yang kecil, ada juga yang setinggi manusia. Tidak diketahui bagaimana secara tiba² batu ini ada dimana² menyebar di Costarica, layaknya lapangan golf yang super besar.

Beberapa batu bahkan sudah ada yang dicoba untuk diledakkan, mereka berharap mereka dapat menemukan harta karun, biji kopi, bahkan bayi didalamnya, mungkin. Beberapa batu sudah ada yang digulingkan, tapi beberapa masih terlalu berat untuk ditarik buldozer.

Why Can't They Solve It ?

Masih menjadi misteri dan bagaimana batu ini bisa terbentuk. Jika batu ini terbentuk dari zaman dahulu, bagaimana bisa manusia pada masa itu bisa membuat batu besar seberat ini dan menjadi sehalus itu ?


5. The Baghdad Batteries

The Baghdad Batteries adalah sebuah artifact yang ditemukan di Mesopotamia, yang diketahui dibuat pada zaman awal masehi. Benda ini seperti perlengkapan orang mesir zaman dahulu ketika berpergian. Ketika seorang arkeologis sadar dia bukan hanya menganalisa sebuah pot, dia langsung kaget ketika ia tau itu adalah sebuah baterai, karena pot tersebut berisi cairan baterai seperti cairan acid corrosion.

Kenapa tidak dapat dijelaskan ?

Jelas saja tak dapat dijelaskan. Bagaimana bisa manusia pada zaman itu membuat cairan baterai dan menggunakannya sebagai lampu? sekali lagi IPTEK gagal menjelaskannya.

Pesan Seorang Kakak Untuk Adik Tercinta

Kecil, dimanja. Muda, foya-foya. Tua, kaya raya. Mati, masuk surga.
Inilah bahan candaan anak muda saat ini. Mungkin ini cuma bercanda. Namun, kadang juga ada yang punya prinsip hidup seperti ini. Begitu pula dengan seorang adik. Seorang adik dinasehati,
“Dek, kamu di dunia ini hanya hidup sementara, jagalah ibadahmu.” Entah mengejek atau sekedar guyonan, dia menjawab, “Justru itu kak, kita manfaatkan hidup di dunia sekarang dengan foya-foya.”
Sungguh adik yang satu ini jauh dari agama. Hidayah memang di tangan Allah. Namun nasehat haruslah terus disampaikan karena dialah adik satu-satunya yang setiap kakak pasti menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia pun telah mendapatkan kebaikan.

Dek … Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi wejangan pada seorang pemuda, yaitu Ibnu ‘Umar. Berikut sabdanya,
“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau bahkan seorang pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Adikku, negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan di sini adalah dunia, sedangkan negeri tujuannya adalah akhirat.

Adikku, yang namanya orang asing adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tempat berbaring, namun dia dapat mampir sementara di negeri asing tersebut.
Lalu dalam hadits di atas dimisalkan lagi dengan pengembara.

Wahai adikku, semoga engkau selalu mendapat taufik-Nya. Seorang pengembara tidaklah mampir untuk istirahat di suatu tempat kecuali hanya sekejap mata. Di kanan kirinya juga akan dijumpai banyak rintangan, akan melewati lembah, akan melewati tempat yang membahayakan, akan melewati teriknya padang pasir dan mungkin akan bertemu dengan banyak perampok.
Itulah adikku, permisalan yang dibuat oleh nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia itu hanya sementara sekali, bahkan akan terasa hanya sekejap mata.

Renungkan juga hadits ini Adikku, permisalan yang bagus pula dapat engkau renungkan dalam hadits berikut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia hanyalah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)
Lihatlah adikku, permisalan yang sangat bagus dari suri tauladan kita. Hidup di dunia sungguh sangat singkat. Semoga kita bisa merenungkan hal ini.

Adikku … Segera kembalilah ke jalan Allah, ingatlah akhirat di hadapanmu
Semoga hatimu terenyuh dengan nasehat Ali bin Abi Tholib berikut.

Ali berkata, “(Ketahuilah) dunia itu akan ditinggalkan di belakang. Sedangkan akhirat akan ditemui di depan. Dunia dan akhirat tersebut memiliki bawahan. Jadilah budak akhirat dan janganlah jadi budak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan. Sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan dan bukanlah hari beramal lagi.”

Adikku, ingatlah akhiratmu. Ingatlah kematian dapat menghampirimu setiap saat dan engkau tidak dapat menghindarinya. Janganlah terlalu panjang angan-angan.

Siapkanlah bekalmu dengan amal sholeh di dunia sebagai bekalmu nanti di negeri akhirat. Perbaikilah aqidahmu, jauhilah syirik, jagalah shalatmu janganlah sampai bolong, tutuplah auratmu dengan sempurna janganlah sampai mengumbarnya, dan berbaktilah pada ortumu dengan baik.

Semoga Allah memberi taufik padamu. Semoga kita dapat dikumpulkan bersama para nabi, shidiqin, syuhada, dan sholihin.

ALLAH AKAN MEMBERIMU SAYAP

Adzan maghrib sudah berkumandang. kurang dua jam lebih.Perempuan yang sudah tua tetapi masih kelihatan sehat itu buru2 mengambil air wudhu dan shalat maghrib. Sesudah shalat ditambahi dzikir dan doa seadanya dia pun kembali bergegas ke tempat duduknya lagi. Tidak lama kemudian diujung lorong dilihatnya tempat tidur yang didorong oleh 2 perawat. Nenek inipun segera bangkit dan dengan sedikit berlari dia berjalan disamping tempat tidur beroda itu.

Diatas tempat tidur yang berjalan itu tergeletak laki2 yang sudah menemani hidupnya 20 tahun lebih. Laki2 20 tahunan itu tersenyum melihat sang nenek berada disampingnya. Didepan pintu ruangan yang keliatan begitu terang si nenek meminta perawat itu berhenti. Lalu sang nenek mendekatkan bibirnya ke telinga laki2 itu, "you tidak punya apa di dunia ini, your body its not yours, ingat itu!" bisiknya. Laki2 muda itu menganguk dan tersenyum lagi diantara air matanya yang mulai keluar.

Setelah kedua perawat itu hilang dibalik ruangan yang terang benderang, nenek itu lalu membalikkan badan dan berjalan pelan sambil menunduk. DIa pergi ke salah satu ruangan dimana laki2 tadi selama 2 hari ini berada. Pelan2 dia masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu lagi. Lalu dipakainya mukena putih, di gelarnya sajadah kecil dan dia duduk diatasnya. Perempuan tua yang tadi keliatan tegar melihat cucunya sekarang mulai meneteskan air mata.

Setelah shalat isyak sepertinya si nenek masih ingin berlama lama dalam kesendiriannya. Tasbih ditangan kanannya berputar perlahan. Wjahnya menunduk.Tampak beberapa tetes airmata jatuh memhasahi mukenanya. Pikirannya melayang jauh beberapa waktu yang lalu. Seorang anak kecil yang selalu dia gendong kemana mana. Terbayang seorang anak kecil dengan seragam TK berlarian ke sana kemari bersama teman-temannya. Terbayang anak SD yang bersepeda didalam rumah, di halaman belakang, di jalan raya. Terbayang seorang anak SMP yang masih suka mandi di sungai bersama teman2 kampungnya. Terbayang anak SMA yang mulai mengenal cantiknya seorang gadis. Terbayang seorang laki2 muda dengan Yamaha Majesti, laki2 yang berjalannya seperti setengah berlari, laki2 setiap sore selalu memakai sarung dan baju shalat menyambut maghrib.

Terbayang laki2 yang selama ini menemani kesendiriannya. Laki2 yang tidak pernah malu mebawa dirinya yang sudah tua kepesta ulang tahun temennya. Dialah Ratu dari seorang anak laki2 yang selama ini memanggilnya oma. Laki2 yang sejak usia 2 tahun dia minta dari anak perempuannya.
Laki2 yang selalu mencium tangannya lalu di letakkan di dahinya."ini jimat saya!" begitu laki2 itu bilang saat melakukan itu.

Tiba2 kenangan indah itu seperti dibalik dalam sekejap.dilihatnya kan dinding yang menunjukkan angka 10 malam. 1 jam lagi tidak akan ada lagi laki2 yang bejalan setengah berlari. Tidak akan ada laki2 dengan Yamaha Majesti. Tidak akan ada laki2 yang berlari naik turun tanggak di belakang rumahnya sehabis shalat subuh. Tidak akan ada laki- yang berlarian sambil bercanda dengan keponakan kecilnya. Yang ada adalah laki2 dengan kruk ditangan kirinya sebagai pengganti kakinya yang diamputasi sekarang.

Jam berdentang sebelas kali. Perempuan itu bergegas melipat mukenanya dan kembali dimana tadi dia menunggu. Tak lama kemudian dua perawat tadi keluar mendorong tempat tidur. Jantung nenek itu seperti terhenti. Dia melihat cucu laki2nya tertidur tenang di atas tempat tidur. Matanya langsung tertuju pada bagaian tubuh bawah cucunya. air matanyapun tak kuasa dia bendung. Dengan air mata yang seperti bah dia membisikkan sesuatu ditelinga lakii2 yang tertidur dengan senyum itu.

"Allah akan gantikan yang diambil itu dengan 2 sayap supaya kamu bisa lebih cepat dari hanya sekedar berlari "

Jumat, 20 Mei 2011

LELAKI SUBUH

"Mba, aku punya temen yang aneh banget lho," adikku berkata tiba-tiba memecahkan kesunyian sore itu.

"Hmm," aku hanya menggumam mendengar pernyataan adikku tanpa melepaskan tatapan mataku dari buku yang sedang kunikmati isinya.

"Bener lho Mba, dia tuh salah satu orang teraneh yang pernah aku jumpai," lanjutnya lagi.

"Ya, wajar aja lah dek, orang aneh kayak kamu, pasti temennya juga aneh kan?" Aku hanya menjawab pernyataan adikku sekenanya, sambil tersenyum menggodanya.

"Mba mau denger nggak sih? ini serius, ntar mba rugi kalo gak mau dengerin aku," lanjutnya dengan nada sedikit lebih tinggi.

"Ya, kalau kamu merasa dia aneh, jangan dijadiin temen doong, sekarang aja kamu tu dah aneh banget, ntar gaul sama dia, bisa mampus Mba ngadapin kamu," jawabku sekenanya.

Adik bungsuku itu tidak memperdulikan jawabanku barusan. Melihat aku meletakkan bukuku, dengan muka yang serius dan berkerut dia mulai bercerita. Seperti biasa, kalau ekspresinya sudah begini, maka, sesibuk apapun aku —dengan terpaksa ataupun dengan kerelaan— aku harus punya waktu untuk mendengarkannya. Kebetulan adikku sedang weekend di kotaku. Dia sedang menyelesaikan studi masternya di salah satu kota di daerah barat Jerman, tetapi saat ini dia sedang melakukan pratikum (kalau di Indonesia setara dengan kerja praktek) di salah satu kota di bagian selatan. Kebetulan aku tinggal di kota antara barat dan selatan, sehingga dia mampir sebentar sekalian untuk menjengukku.

"Aku kenal dia belum sampai setahun di tempat aku pratikum." Adikku mulai bertutur. "Pertama kali aku kenal dengan dia, orangnya sih biasa saja, nothing special. Mungkin karena kita sama-sama dari Indonesia, apalagi sesama muslim. So, akhirnya kita jadi dekat dan akrab," tuturnya perlahan.

Hmm, tumben pikirku.

Aku sangat kenal tabiat adikku yang satu ini. Dia tidak mudah untuk menyatakan seseorang itu adalah teman dekatnya. Adikku ini dalam bergaul emang teramat sangat jaim dan introvert.

"Tumben, kamu punya temen deket dek, yang Mba tau, temen yang kamu anggap deket sejak lahir ampe sekarang kamu idup kan gak sampe 5 biji, hihi," kembali aku menggodanya.

"Pasti ada sesuatu yang yang membuat kamu betah dekat dengan dia, bener nggak? kali ini aku mencoba meraba, gerangan apakah yang membuat adikku ini bisa akrab dengan mahluk yang katanya aneh ini.

"Mba tau?"

"Ya nggak lah, wong kamunya belum bilang kok, gimana Mba bisa tau?" dengan sengaja aku memotong pembicaraannya.

"Aku benar-benar menyayanginya dengan sepenuh hatiku." Adikku berkata lembut dengan sorot mata penuh kekaguman.

’’What, wie bitte? Barusan kamu bilang apa? entar dulu, orang yang sedang adek bicarain ini laki apa perempuan sih?" tanyaku bergegas.

"Pffhh, Mba ini nyebelin banget! Ya cowok lah!" jawabnya ketus.

"Emm, cowok toh," jawabku ringan sambil tersenyum lebar.

"Ikhwan?" timpalku lagi.

"Hmm, kalo yang Mba maksud adalah lelaki berjenggot dan dengan segala atributnya, mungkin dia gak termasuk kategori ini deh."

"So, dia lelaki jenis yang mana?" tanyaku datar.

"Susah buat memberi definisinya, yang aku tau kalau dilihat dari luarnya, dia adalah lelaki biasa-biasa saja. Tampangnya dan gaya bicaranya gaul banget. Tetapi, kalau kita kenal dia lebih jauh, bagiku dia adalah cowok keren, dengan segala makna yang terkandung di dalamnya!" kembali adikku berkata dengan sorot mata berbinar.

"Tapi tadi katanya dia mahluk aneh? kok sekarang jadi mahluk keren? gak konsisten kamu ah," kembali aku menggoda adik bungsuku ini.

Hmm, kalau kata-kata pujian atau kekaguman keluar dari mulut adikku ini, berarti kualitas orang yang sedang dibicarakannya adalah memang bukan sembarangan. Adikku ini sangat pelit dengan pujian, atau mengakui kekagumannya kepada seseorang. Karena dia punya standar yang cukup tinggi dalam memberikan penilaian. Bagiku wajar saja, toh dia sendiri adalah kebanggaan di keluarga kami. Dia menyelesaikan S1-nya di jurusan teknik dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cum laude di Institut bergengsi.

Semenjak semester kedua kuliah dia sudah hidup mandiri dengan hasil keringatnya sendiri. Mendapatkan beasiswa top-ten student Indonesia dan penghasilan di sana sini dengan kepiawaiannya mengajar. Selain padat dengan jadwal kuliah dan mengajar privat, dia menyempatkan diri pula untuk mengajar mengaji anak-anak di masjid dekat rumah kontrakan kami. Menghidupkan masjid, mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak kurang mampu yang menjadi murid mengajinya, dan bahkan terkadang merangkap menjadi imam dan muadzin, bahkan tukang ojek part time mama kalau pergi ke pengajian.

"Coba Mba tebak ya, dia pasti sholeh? Bener nggak? Trus, pekerja keras. Iya khan? and, apalagi ya? ah, palingan seputar itulah, gak bakalan jauh-jauh dari situ, iya kan?" Kataku dengan senyum penuh kemenangan. Karena aku yakin sekali, tebakanku kali ini tidak akan meleset jauh.

"Secara umum bener sih. Tapi cara sholehnya itu loh mba, yang gak masuk dalam jangkauan akalku," jelasnya sambil menerawang jauh.

"Maksudnya? Mba gak ngerti," tanyaku dengan sedikit rasa penasaran dibenakku.

"Kita sekarang ini bukan sedang di Indonesia Mba. Kalau aku temuin dia di Indonesia, ato di Bandung misalnya, mungkin bagiku sih biasa aja. Tapi, kalau untuk ukuran di sini —di Jerman— hmm berat!’’ tuturnya sambil menghela nafas.

Aku terdiam sejenak dan mulai menaruh perhatian pada apa yang barusan diucapkan oleh adikku. Dalam hati aku membenarkan ucapan adikku barusan. Untuk istiqomah tetap pada aturan Allah di sini tidaklah semudah mengucapkannya. Butuh perjuangan dan kesungguhan penuh. Untuk melakukan ibadah rutin —sholat lima waktu— tidaklah semudah di Indonesia. Belum lagi untuk selalu berhati-hati dalam segala hal, menjaga diri dari makanan haram dan menjaga pandangan misalnya. Benar-benar butuh azzam.

"Dia temenmu sama-sama kuliah? Dia sedang ambil Master juga di sini? Dia ikut tarbiyah?" tanyaku beruntun.

"Aku ketemu dia ketika sedang pratikum di Ulm. Dia juga sedang berjuang menyelesaikan program masternya."

"Beasiswa?" tanyaku penasaran.

"Ndak. Dia kuliah sambil bekerja part-time di sini."

"Maksud Mba, beasiswa dari keluarga?" timpalku sambil tersenyum simpul.

"Ndak juga. Dia tidak mau menerima kiriman dari orang tuanya dari Indonesia. Dia nggak tega, soalnya mereka sudah cukup tua katanya." jawab adikku sambil tetap menjawab dengan nada serius.

"Oo gitu." jawabku sambil berfikir, mencari bagian yang aneh tentang temennya tersebut.

"Mba tau, setiap waktu sholat tiba, dia akan segera berwudhu, mengenakan pakaian terbaiknya, dan selalu mengumandangkan adzan di kamarnya." lanjut adikku dengan kalem.

"Maksudmu? adzan di apartementnya?" tanyaku untuk memastikan pendengaranku.

"Iya. Bila kita kebetulan tidak sedang di luar apartement, dia selalu melakukan hal tersebut."

"Bahkan ketika kamu sedang berada di kamarnya?" selidikku lagi.

"Iya, dia tidak pernah perduli apakah lagi sendiri ataukah ada teman yang sedang mengunjunginya. Bila waktu sholat telah tiba, dia dengan cueknya adzan di kamarnya dengan suara yang syahdu dan mengajak sholat berjamaah." Dengan semangat adikku menjelaskan.

"Hmm, unik juga ya." sahutku sambil mencerna ucapan adikku.

Setelah hening sejenak, aku kembali bertanya kepada adikku.

"Adek pernah tanya ke dia nggak, kenapa dia melakukan hal itu?" selidikku penasaran.

"Pernah sih, setelah aku mati penasaran melihat tingkahnya yang nggak cuma sekali itu."

"Trus apa jawabannya?" Kucondongkan mukaku menanti jawaban dari mulut adikku.

"Dia bilang waktu sholat sudah tiba, dan dia merasa berkewajiban untuk menyeru menegakkan sholat, menghadap Allah untuk mencapai kemenangan." lanjut adikku.

"Tapi kan kadang-kadang di apartemennya cuma ada dia sendirian. So, dia adzan buat siapa?" lanjutku dengan nada yang sedikit tecekat di tenggorokan.

"Iya emang." jawab adikku dengan sorot mata berkaca, menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan agar bulir kristal dari bening matanya tidak tertumpah.

Mengertilah aku kini, gerangan perasaan yang tengah melanda di hati adik bungsuku ini. Dia tengah dilanda cemburu. Cemburu kepada saudaranya yang mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah dengan cara yang tidak pernah terlintas di kepalanya.

"Mungkin itu emang ibadah ’andalannya’." lanjutku hanya untuk sekedar menetralisir perasaannya.

"Kamu kan juga punya ibadah favorit yang selalu berusaha istiqomah kamu lakukan dari dulu sampe sekarang." Kuucapkan kata-kataku dengan sebijak dan setenang mungkin.

Adikku hanya diam, menatapku dengan tatapan yang sulit untuk aku terjemahkan.

"Kamu Insya Allah masih istiqomah kan untuk selalu sholat subuh di masjid?" tanyaku lagi seraya menatap matanya hanya untuk sekedar memastikan.

Adikku mengangguk perlahan.

"Subuh di masjidnya di semua musim kan? Maksud Mba, mau summer ataupun winter kamu tetap sholat subuh di masjid kan?" lanjutku berusaha untuk mencairkan suasana.

Adikku kembali mengangguk.

"Tapi dia juga selalu sholat subuh di Masjid Mba. Mau sedingin apapun winter di sana, dia tetap untuk berusaha sholat subuh di Masjid." Lanjut adikku lagi.

"Asik doong, kalo gitu kamu punya temen buat sholat subuh," lanjutku lagi dengan nada setenang mungkin, dengan segenap gemuruh cemburu di dadaku.

Subhanallah, dari dasar hati yang terdalam, aku benar-benar memberikan dua jempol untuk mereka berdua. Untuk sholat shubuh tepat waktu, serta berjamaah di masjid —di negeri ini— benar-benar dibutuhkan energi kesholehan yang luar biasa. Aku tahu, tidak semua orang sanggup melakukannya. Hanya orang-orang yang sudah terbiasa melakukannya dan menjadi bagian yang tak terpisah dari jiwanya saja yang akan sanggup melaksanakannya. Dengan jadwal shubuh yang tidak tetap seperti di Indonesia, dengan masjid yang tidak selalu ada di setiap kota, serta dengan jiwa yang selalu berusaha istiqomah melakukannya, tentu, hanya akan bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan saja!

"Aku mempunyai beribu kenangan indah dengan temanku ini Mba. Dari dia aku belajar banyak hal. Tentang arti ketulusan, kejujuran, kelembutan hati, dan terutama cara dia mengekspresikan cintanya kepada Allah. Pernah suatu hari sedang terjadi gerhana bulan. Dia menelponku dan mengajakku untuk melakukan sholat sunat gerhana bulan di Masjid. Karena dia mengikuti beberapa kajian di Masjid, Imam Masjid di sana cukup dekat dengan dia, sehingga dia mendapatkan informasi tentang adanya sholat gerhana bulan tersebut. Aku sih senang-senang saja diajak sholat gerhana bulan. Apalagi waktu itu hari Jumat, dan kupikir Insya Allah tidak akan lama. Aku nggak tau kalau yang bakalan jadi imamnya ternyata seorang hafidz Quran. Di rakaat pertama beliau membaca surat Ali Imron, dan di rakaat kedua kalau aku nggak salah Beliau membaca surat An-Nisa. Kebayang kan berapa lama jadinya?" adikku bercerita dengan bersemangat tapi dengan mimik muka yang masam.

Aku hanya tersenyum geli mendengar cerita adikku.

"Wah, bagus buatmu dong dek! Jadi sekalian ngulang hafalan Ali Imronmu, haha." aku berkata seraya tak kuasa menahan gelak tawaku, karena terbayang di benakku wajah adikku yang manyun dengan kaki yang pegal dan hati bertanya-tanya, kapan sholatnya bakalan kelar!

"Dan Mba tau nggak? Tadinya aku mau complaint tentang imam yang gak ‘care’ banget dengan jamaah yang mungkin cape karena surat yang dibacanya panjang baget ke temanku itu. Tetapi ketika aku melihat wajahnya yang begitu bahagia dan tidak sedikitpun terlihat letih, aku urungkan niatku untuk sedikit 'complaint'. Aku tidak habis pikir, semangat apa yang ada di dalam jiwanya, sehingga dia tidak terlihat lelah sedikitpun kala itu. Karena aku tahu, beban kuliah ditambah dengan beban untuk mencari rezeki untk menyambung hidup di sini, sudah cukup untuk membuat kita letih. Setelah sholat gerhana bulan selesai, aku dan temanku pulang dengan mengendarai sepeda kami dan dengan udara yang teramat sangat dingin. Mba pasti bisa membayangkan gimana cuaca jam 3 pagi di musim dingin di daerah selatan Jerman. Tapi ketika itu, yang aku rasakan hanyalah kehangatan suasana persaudaraan karena Allah semata. Begitu indah. Di negeri yang hampir sebagian besar penduduknya tidak mengenal Allah, kutemui saudaraku yang begitu dalam kecintaannya kepada Allah, yang bukan hanya sekedar di bibir saja. Karena tatap mata tidak pernah berdusta Mba. Aku benar-benar temukan binar mata dengan luapan rasa cinta yang begitu indah pada dirinya, ketika dia beribadah kepada Allah. Dia benar-benar mengayuh sepedanya pulang kerumah dengan segenap energi cintanya kepada Allah. Kalau mengingat kejadian itu, aku jadi malu sendiri dan serasa bermimpi. Hari gini, di sini, kutemui salah seorang yang dalam pandanganku begitu mencintai Allah. Dan di hati kecilku aku bertanya, bagaimanakah keadaaan para sahabat di zaman Rosulullah, sahabat dan para salafus sholeh? Bagaimana cara mereka mengekspresikan rasa cintanya kepada Allah?" adikku menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan penuh kegalauan.

Sungguh, akupun hanya bisa termangu ketika mendengarkan cerita adikku tentang temannya yang ‘aneh’ itu. Dan aku menjadi penasaran dengan keanehan yang mungkin saja masih ada dalam dirinya.

"Trus, kerjaan ‘aneh’ apalagi yang dia lakuin selain itu dek?" tanyaku untuk mengetahui kebaikan tersembunyi apalagi yang bisa aku gali dan berharap bisa belajar banyak darinya. Adikku tersenyum misterius dan menggeleng gelengkan kepalanya perlahan.

"Kalau aku ceritain ke Mba, Mba pasti bilang aku sedang membual," jawab adikku sekenanya.

"Ya nggak lah, Insya Allah Mba percaya kok. Lagian kan gak ada untungnya juga buat kamu kalau kamu bohong," jawabku berusaha meyakinkannya.

"Pernah suatu hari, secara tidak sengaja dia menggunakan wireless internet connection yang tidak di password sama yang punya. Setelah selesai memakainya, dia baru tersadar, kalau itu sebenarnya adalah bukan haknya. Mba tau, apa yang kemudian dia lakukan?" Tanya adikku seraya menatapku dalam.

Aku hanya diam dan menggelengkan kepala.

"Dia berusaha mencari sang empunya wireless internet connection itu. Dia datangi rumahnya, dengan tujuan supaya sang pemilik menghalalkan internet connection yang telah dipakainya karena kekhilafannya." papar adikku.

Aku hanya melongo mendengarkan penuturan adikku.

"Dan, apa dia ketemu dengan sang empunya," tanyaku penasaran.

"Sayangnya tidak. Tetapi dia mendatangi rumah tersebut hingga tiga kali untuk menyempurnakan ikhtiarnya." Lanjut adikku lagi seraya menghela nafas.

"Kok seperti kisah ayah Imam Hanafi yang minta dihalalkan sang empunya apel, karena telah memakan buah apelnya secara tidak sengaja ya dek?" komentarku spontan.

"Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama dengan yang Mba pikirkan. Itulah dia temanku itu. Dia begitu Hanif. Refleksi dari kesholehannya itu kadang-kadang membuat aku iri. Dan terkadang sesuatu yang unpredictable bagiku, tidak bisa kuduga. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang seperti dia, sehingga banyak yang telah aku pelajari dari dia. Cara dia beribadah dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal baginya. Cara dia mejaga diri dan menjaga pandangan. Serta llisannya yang selalu menyebut nama Allah dalam setiap pembicaraannya, menunjukkan betapa dia begitu mencintai Rabbnya. Dia adalah sahabatku, saudaraku. Bagiku ia adalah sosok seorang pemuda sholeh yang tidak dikenal, ahli ibadah yang tersembunyi di ujung Jerman." Adikku berkata syahdu dengan segenap perasaan sendu yang tidak kumengerti.

Setelah mendengar cerita adikku itu, lama aku merenung, mencoba memahami hikmah dan pelajaran yang Allah sampaikan kepadaku. Teringat akan salah satu artikel yang pernah aku baca di majalah Tarbawi edisi 133. Ketika Allah kagum pada seorang pengembala. Dengan apa? Bila tiba waktunya untuk sholat, di padang lapang itu, ia berdiri mengumandangkan adzan. Sendirian. Lalu sholat. Sendirian. ’’Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pengembala kambing’’. Begitu Rasulullah menjelaskan. Istimewa? Ini baru istimewa. Ya bahkan sangat istimewa. Seperti diriwayatkan Abu Dawud dan Nasa’i, setelah pengembala itu melakukan shalat, Allah SWT berfirman: ’’Lihatlah hamba-Ku ini, ia adzan, lalu mendirikan sholat. Ia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuninya, dan aku masukkan ia ke surga.’’

Subhanallah. Di zaman yang penuh fitnah, masih ada pemuda-pemuda yang tetap taat beribadah kepada Allah. Pada zaman ketika kebaikan dan keburukan menjadi begitu tak jelas maknanya. Pada tempat di mana segala kemaksiatan begitu bebas terbuka untuk dilakukan oleh siapa saja, bagiku, keberadaan mereka benar-benar luar biasa. Bak oase di gersangnya sahara. Menyejukkan.

Di penghujung senja, dalam sejuta kecamuk di dadaku. Berbaur bangga, cemburu dan bahagia, kutitip do’a pada malaikat yang bertugas hari itu.

Semoga Allah selalu berikan kekuatan istiqomah kepadamu brother. Tetaplah menjadi lelaki subuh. Tetaplah kumandangkan adzan hingga getar cinta dalam syahdunya suaramu menggetarkan kerajaan langit dan segenap penduduknya. Tetaplah teguh dalam kesholehanmu. Dalam kesendirianmu. Tetaplah menjadi pemuda yang tidak dikenal oleh segenap penduduk bumi, tapi selalu menjadi pembicaraan di seluruh penjuru langit yang tinggi, karena kesholehanmu, karena kecintaamu kepada Allah SWT.

KETIKA KEIKHLASAN ITU HADIR

Tangisku pecah, memasuki kamar kosku. Seperti berada dalam pelukan ibuku. Kamar tempatku menumpahkan segala rasa. Kamar tempatku merancang mimpi dan merajut asa. Disini aku bisa menangis sepuasnya. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, termasuk menangis dengan tangisan paling menyayat seumur hidupku, begitulah aku mengistilahkannya. Kumatikan ponsel dan semua akses komunikasi. Aku tidak ingin bicara dengan siapapun, karena tak akan ada yang mengerti perasaanku saat itu.

Aku menangis, menjerit, memecah kesunyian, dan menumpahkan semua beban yang membunch di dadaku. Tak satu pun orang di rumah kos ini. Hanya aku dan Tuhanku. Tuhanku? Kenapa aku bisa melupakannya...Tuhan tempatku bergantung. Tuhan tempatku bermohon, Allah tempatku berbagi.

Setelah hampir satu jam menangis, aku mulai merasa lelah. Seiring suara azan Isya dari masjid sebelah, aku mencoba bangkit. Berwudhu, membasu wajahku, menyeka sisa air mata yang menempel di pipiku.

Rabb, nikmat Engkau yang mana lagi yang akan hamb dustkan?

Kenapa aku harus menyayat sedemikian menyayat padahal aku masih bisa merasakan dinginnya air wudhu membasahi permukaan kulitku. Setelah itu kuhadapkan diri pada Rabb-ku. Sholat Isya. Allahu Akbar...Maha Besar Allah yang telah menciptakan ujian dan cobaan dalam hidup. Mungkin inilah shalat terbaik dalam hidupku. Sholat dalam keadaan ingatanku akan kematian teramat kuat. Inikah shalat terakhirku?

Kenapa harus aku? Cukup kuatkah aku menjalaninya? Mampukah aku hidup tanpa mimpi dan asa?

Ingatanku kembali pada kejadian siang tadi saat berjalan sendiri melewati lorong-lorong sepi di salah satu rumah sakit. ini hari ke-6 aku menjalani rangkaian pemeriksaan tubuhku di rumah sakit. Keluhan anemia, mual muntah, hipertensi, dan asam urat tinggi kembali terngiang di kepalaku. Hari ini adalah penentuan, sakit apa aku sebenarnya.

Dengan tegap kulangkahkan kakiku menuju ruang periksa dokter spesialis ginjal dan hipertensi. Dengan tenang aku duduk di depan dokter sambil menyerahkan hasil-hasil lab yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi.

saat selesai membaca hasil labku yang terbaru, tiba-tiba dokter itu menatapku dalam. Aku hanya tersenyum. Dia menatapku semakin dalam. Tak lama kemudian, meluncurlah kelimat panjang yang seolah menjadi pengantar bayanganku tentang sesuatu : .....KEMATIAN!!!

"Kamu punya Askes? Kerja dimana? Ada jaminan kesehatan nggak? Dengarkan baik-baik, kamu harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Satu kali cuci darah 600.000 rupiah. Artinya, kamu harus sedia uang minimal 4.800.000 rupiah setiap bulan. Kalau tidak, kamu akan mengalami komplikasi penyakit sampai koma dan bisa berakibat pada kematian, gimana?"

Aku perempuan berusia muda, yang datang sendiri ke rumah sakit dengan keyakinan bahwa penyakitku masih bisa diobati dengan minum obat secara rutin, tiba-tiba mendengar istilah baru bernama cuci darah.

Ya Tuhan, apa lagi ini? Jenis pengobatan macam apa ini? Mengapa begitu mahal? Apakah tidak ada alternatif lain? Sudah sedemikian parahkah penyakitku ini?

Segala hal tentang kematian tiba-tiba menggantung di pelupuk mataku. Kucoba menahan bulir bening itu turun dengan mengangkat wajah sambil menatap gambar-gambar yang menempel di dinding. Tidak mungkin aku menjalani cuci darah yang sedemikian mahal. Membayangkannya pun bahkan aku tak sanggup. Yang terngiang di telingaku hanyalah ungkapan sang dokter : Cuci Darah atau Mati!

Dan sampai kini ingin sekali kukatakan "Dokter, tidak bisakah Anda memberi sedikit harapan kepada seseorang yang harus menghadapi kematian ketika teman-temannya sedang merajut mimpi tentang masa depan?"

Tiba-tiba ada suara keras yang memekakkan telingaku, "IKHLAS!!" Ya, hanya itu. Entah dari mana. Apakah itu suara nuraniku atau jawaban dari pertanyaanku? Aku tak pernah tahu. Yang jelas satu hal yang aku rasakan saat itu, ada kekuatan yang mendorongku untuk berkata, "Rabb, apapun yang akan terjadi, apapun yang harus hamba jalani, hamba ikhlas."

Ada kekuatan besar yang mampu mendorongku untuk berhenti menangis, berhenti bertanya. Aku mencoba sendiri, lebih banyak mengingat Allah, mencoba memaknai sabar dan ikhlas yang tak terbatas.

Selembar kertas yang bertebaran di meja segera ku raih, jemari lentikku kembali menggerakkan pena..
Hari ini ku ingin sampaikan padamu tentang ikhlas...

Sungguh, Kesabaran itu tak pernah berbatas..
Yakinkan dirimu bahwa tak akan ada kata "Kesabaranku sudah habis" keluar dari mulutmu
Karena ikhlas itu tak pernah boleh berakhir...
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada kata "Aku sudah tak sanggup lagi" mengalir dalam bibirmu
Karena tugasmu sebagai Abdi Rabbmu..tak akan pernah selesai

Yakinkan dirimu bahwa Rabb-Mu Maha Adil
Yakinkan dirimu bahwa engkau mencintai-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa engkau mati hanya untuk-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada sesuatu dan seseorang dalam hatimu kecuali DIA.
Dan akhirnya...keikhlasan itu pun hadir....

Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendak-Nya...
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan atas hidupmu
Karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu

Ketika inginmu tak sesuai dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu
Karena Dia Mahatahu segala hal tentang dirimu..

Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu
Bukan kecewa pada Robb-Mu..
Tapi kekecewaan pada dirimu sendiri
Karena tak mampu berdiri diatas ingin-Nya..

Hidup harus terus dijalani, Sholehah terkasih...
Semenyakitkan apapun
Siap ataupun tidak
Karena Rabb-Mu tidak pernah butuh persetujuanmu atas setiap kehendak-Nya..

Belajar Hikmah dari bu Fatimah

Sebut saja namanya Ibu Fatimah, seorang Guru Tsanawiyah di sebuah kota kecil. Ia mengajar Agama bagi anak kelas, 4, 5 dan 6 di madrasah tersebut. Usianya masih muda dan cantik, penampilannya sederhana dengan berjilbab rapi. Sebelum jam pulang sekolah, ia mengajar di kelas 6 sekolah tersebut. Meski ia guru honorer, tapi ia tampak bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid muridnya. Ia kemudian duduk menghadap murid muridnya ..di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. 



Sang guru berkata.."Anak-anak, tolong perhatikan, Ibu punya permainan ... caranya begini ..di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus .. jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "kapur "!!, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "penghapus" ... " Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti dan sang guru berganti gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat ..


Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata ... "Baik sekarang perhatikan ..jika saya angkat kapur, maka berserulah "penghapus" jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "kapur" dan dijalankanlah adegan seperti tadi," Tentu saja murid murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya, namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi .. dan tidak lagi sulit selang beberapa saat , permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid muridnya ..

"Anak anak, begitulah kita ummat islam ...mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil ... kita begitu jelas membedakannya, namun kemudian, setan memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu ... dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya ..pertama tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan terus menerus kedalam benak kita dengan cara cara yang sangat menarik akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu ... dan kalian mulai mengikutinya dan percaya bahwa yang bathil itu sesunnguhnya haq. "

“Ingatlah anak-anak, Setan tidak akan pernah berhenti membalik nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Karena pengaruh tontonan sinetron yang mengajarkan kekafiran dan anehnya disukai, kini ...pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan ..materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan tawuran menjadi trend pemuda..semuanya sudah terbalik .. dan tidak disadari .. kalian sedikit demi sedikit menerima nya ..paham ?" tanya ibu guru kepada murid muridnya.

"Paham buu ..."

"Baik, sekarang permainan kedua .. begitu bu guru melanjutkan ...bu guru punya Al-Qur'an ...ibu letakkan di leker persis ditengah-tenag karpet besar ini. Nah sekarang ...kalian berdiri di luar karpet ..lalu .. gamenya adalah...bagaimana caranya mengambil Al-Qur'an yang ada ditengah tanpa menginjak karpet...nah .. nah nah.."

Murid-muridnya berpikir keras ..ada yang punya alternatif dengan tongkat .. dan lain lain ... akhirnya sang guru memberikan jalan keluar ...ia gulung karpetnya, dan ia ambil Al-Qur'an nya ...dan ia memenuhi syarat..tidak menginjak karpet ..

"Anak-anak, setan tidak akan menginjak nginjak kalian dengan terang terangan .. karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah ..preman terminal-pun tidak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka ..tapi mereka akan menggulung kalian perlahan lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar .... Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat ..begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah akidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya terlebih dahulu, tentu .. saja .. hiasan hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu ..satu persatu .. baru rumah dihancurkan."

"Begitulah setan menghancurkan kita ..ia tidak akan menghantam kita secara terang terangan, ...tapi ia akan perlahan lahan mencopot kalian .. mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian .. dan lain lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka ... dan itulah yang mereka inginkan. Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran) ...dan inilah yang dijalankan oleh setan. Jika pondasi iman kalian tidak kuat maka kalian akan mudah sekali terbawa oleh faham mereka dalam Ghazwul fikri tersebut. Paham anak anak ??? "
"Paham buuuuuuu ..."

"Kenapa mereka tidak berani secara terang terangan menginjak-injak Islam, bu..?" tanya salah seorang dari mereka.

"Menurut setan, ummat Islam itu ibarat seperti monyet. Monyet itu kalau bergelantungan di pohon, lalu ada angin sepoi sepoi, maka monyet akan mengantuk, dan ia akan terjatuh dari pohon itu ...tapi kalau ada angin kencang, maka monyet itu akan memegang ranting pohon dengan kuat .."

"Begitulah ummat Islam .. kalau diserang perlahan lahan, mereka tidak akan sadar hingga akhirnya ia ambruk dan kalah. Tapi kalau diserang serentak terang terangan, mereka akan bangkit serentak, mereka baru akan sadar jika sudah mau ambruk.."

Abah, kembalikan tangan Ita

Ini Kisah Nyata untuk dijadikan pedoman dan pengajaran...Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun.
Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.
Ya...kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Thaipusam.

Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran.

Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?"
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu...!"
"kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri agi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abahhh...cantik kan!" katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah
memukul pula belakang tangan anaknya.Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa ???
Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah lalu memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air.
Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.

Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. .."Ita demam..." jawab pembantunya ringkas. ..."Kasih minum panadol," jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas.... "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu.
Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu......"Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah..... "Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak.

Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketir mananda tangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut
kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.

Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata..... "Abah...Mama...Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul, Ita tak mau jahat. Ita sayang abah...sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya....."Ita juga sayang Kak Narti..." katanya memandang wajah pembantu rumah,
sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.

"Abah...kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil...Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia
dapat menahannya.